Minggu, 20 Juni 2010

Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai-Nilai Nasionalisme

*

Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah.
*

Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005)

Menurut pendapat Krsna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang.internet.public jurnal.september 2005). Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia.Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.

Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa.

*

Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
1.

Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap negara menjadi meningkat.
2.

Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.
3.

Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.



*

Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
1.

Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang
2.

Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
3.

Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
4.

Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.
5.

Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.

Pengaruh- pengaruh di atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis. Bila dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan dapat bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.





*

Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda

Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.

Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.

Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.

Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.

Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme?

Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh positifnya. Oleh karena itu diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai nasionalisme.

*

Antisipasi Pengaruh Negatif Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme

Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain yaitu :

1.

Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
2.

Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
3.

Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
4.

Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
5.

Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.

Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.

Makna Cinta Kahlil Gibran yang anda harus tahu?

Bagi Gibran cinta mengarahkan manusia pada Allah, dan karena cinta pula Allah mempertemukan diri-Nya kepada manusia. Lantaran itu dalam pandangan Gibran cinta sesungguhnya adalah cinta atas nama Allah dan cinta kepada Allah itu sendiri, karena segala sesuatu adalah pantulan dan imanensi dari Sang Mahacinta. Cinta kepada yang lain selain Allah, tetapi atas nama dan di dasarkan pada Allah akan membawa manusia dan alam semesta kepada persekutuan dengan Allah. Hal ini terungkap jelas dalam tulisannya yang berjudul Cinta Keindahan Kesunyian, (Yogyakarta, Bentang Budaya, 1999, hal. 72-74)

"Cinta membimbingku mendekati-Mu namun kemudian kegelisahan membawaku menjauhinya. Aku telah meninggalkan pembaringanku, cinta, karena takut pada hantu kelupaan yang bersembunyi di balik selimut kantuk. Bangun, bangun, cintaku, dan dengarkan aku. Aku mendengarkan-Mu, kekasihku! Aku mendengar panggilan-Mu dari dalam lautan dan merasakan kelembutan sayap-sayap-Mu. Aku telah menginggalkan pembaringanku dan berjalan di atas rerumputan. Embun malam membasahi kaki dan keliman pakaianku, di sini aku berdiri di bawah bunga-bunga pohon Almond, memperhatikan ruh-Mu."

Gibran tidak hanya menekankan cinta sebagai dasar hubungan antara manusia dengan Allah, tetapi lebih jauh dari itu melalui dan dalam cinta manusia diarahkan, dituntun sampai pada tahap akhirnya hidup dalam persekutuan dengan Allah. Cinta melampaui keterbatasan manusia, menembus ruang fisik dan berjumpa dengan Allah. Dengan demikian cinta ditempatkan Gibran sebagai bentuk hubungan terpenting dan tertinggi.

Agar sampai pada persekutuan dengan Allah melalui Cinta, bagi Gibran cinta itu harus berangkat dari peran manusia yang kongkret dalam kodrat kemanusiaan dan potensi-potensinya yang lebih jauh dan luas. Dalam Triloginya Sang Nabi, Taman Sang Nabi, dan Suara Sang Guru (Yogyakarta, Pustaka Sastra, 2004, hal 212) dengan jelas Gibran menggambarkan tentang hal tersebut.

"Kalian orang-orang beriman yang dapat menemukan adanya suatu dasar untuk kemajuan seluruh umat manusia dalam sifat baik manusia, dan bahwa dalam diri manusia terdapat tangga kesempurnaan yang menuju Roh Kudus? Jika kalian dapat berlaku demikian, maka kalian akan seperti bunga bakung di taman kebenaran yang abadi harumnya baik tersimpan dihirup manusia atau tersapu oleh angin lalu."

Hal senada dikatakan Gibran dalamSemua Karena Cinta (Yogyakarta, Narasi, 2005, hal. 54)

"Hidup tanpa cinta bagaikan sebatang pohon yang kokoh berdiri namun dahannya kering, tanpa dihiasi buah ataupun bunga."

Sejalan dengan pandangan mistik agama samawi, bagi Gibran persatuan Allah dan manusia tidak hanya terjadi dalam cinta yang meluap-luap dan berkobar-kobar kepada Allah dalam ekstase. Gibran lebih memandang pengalaman mistik dari aspek etika. Pengalaman mistik dalam pandangan Gibran tidak berarti melarikan diri dari tugas dan tanggungjawab hidup di dunia ini, dengan menyingkir untuk masuk dalam ekstase kebahagiaan untuk diri sendiri saja, membelakangi dunia serta melupakan segala penderitaan hidup diri sendiri maupun orang lain. Baginya mistisisme yang hanya mementingkan diri sendiri adalah egoisme alias pengingkaran terhadap kodrat manusia. Gibran menekankan bahwa relasi cinta antara Allah dan manusia baru akan menjadi nyata bila melimpah ke dunia dalam wujud cinta kepada sesama. Ini harus terjadi bukan dengan kata-kata, melainkan dalam belas kasihan dan kurban diri.

Wujud tertinggi dari cinta bagi Gibran adalah terlibat atau melibatkan diri dalam dunia; dan bentuk keterlibatan itu dimaknai oleh Gibran dengan kerja. Kerja atau pekerjaan adalah satu-satunya wujud relasi manusia dengan Allah dalam dunia, sebagai sebuah bentuk kurban diri yang kongkret. Kerja yang dimaksudkan Gibran tidak hanya melibatkan daya fisik tetapi juga pikiran dan perasaan manusia. Melalui kerja manusia dapat mewujudkan dirinya sebagai individu. Dengan bekerja manusia dapat melebur dalam persatuan dengan sesama, dan dengan bekerja pula manusia dapat menjumpai Allah di dalam alam semesta. Hal ini dilukiskan Gibran dalam Triloginya (hal.28-29)

"...aku berkata bahwa hidup memang kegelapan, jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat-keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan. Dan segala pengetahuan adalah hampa, jika tidak diikuti pekerjaan. Dan setiap pekerjaan akan sia-sia, jika tidak disertai cinta. Bekerja dengan rasa cinta, berarti kalian sedang menyatukan diri dengan diri kalian sendiri, dengan diri-diri orang lain - dan kepada Allah."

Gibran meyakini bahwa kerja merupakan dimensi mendasar hidup manusia di dunia. Latar belakang pemikirannya adalah karena manusia ialah citra Allah, juga karena perintah yang diterima dari Penciptanya untuk menaklukkan dan menguasai dunia. Bagi Gibran semua perkerjaan manusia harus berorientasi pada cinta. Karena kerja yang berlandaskan pada cinta, maka melalui kerja atau pekerjaan manusia tidak hanya mengubah kodrat, tetapi juga mewujudkan dirinya sendiri dan membangun masyarakat keluarga dan bangsa.

Bagi Gibran cinta tidak punya makna selain mewujudkan maknanya sendiri. Cinta tidak memberikan apa-apa pada manusia, kecuali keseluruhan dirinya, dan cintapun tidak mengambil apa-apa dari manusia, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tidak memiliki atau dimiliki, karena telah cukup untuk cinta. Namun jika manusia mencintai dengan hasrat dan keinginan, maka manusia harus meluluhkan diri, mengalir di dalamnya, dan terlibat. Hanya saja dalam kehidupan manusia cinta yang sempurna tidak dapat ditemukan. Kehidupan adalah tabir kegelapan, berkerudung dan bercadar. Melalui dan dalam cinta manusia senantiasa digiatkan untuk melakukan pencarian makna kehidupan dengan mengamalkan cinta kasih, tetapi kesempurnaan cinta hanya ada dan dimiliki oleh Allah.

"Apabila kalian mencinta, janganlah berkata: "Allah ada di dalam hatiku" tetapi sebaliknya kalian merasa: "Aku berada di dalam Allah" Dan jangan kalian mengira bahwa kalian dapat menentukan arah cinta, karena cinta apabila telah menjatuhkan pilihan pada kalian, dialah yang akan menentukan perjalanan hidup cinta." (Trilogi hal.14)

Dalam kehidupan, manusia tidak mampu mengukur kualitas cinta, sebab kepenuhan cinta sesungguhnya adalah Allah itu sendiri. Allah adalah awal dan akhir kehidupan, Allah adalah cinta, maka hanya dalam dan melalui cinta manusia berjalan dan mengarahkan dirinya kepada Allah swt.

by> temmy mokodompit

Mestakung: A Noetic Concept : itu adalah aku percaya atau tidak...

Prof. Yohanes Surya dalam konsepnya; Mestakung, seMesta menduKung, telah melahirkan banyak fisikawan muda dalam asuhannya. Sebuah konsep yang beliau nyatakan sebagai keadaan atau peristiwa dimana alam semesta benar-benar menunjukkan kekuatannya tanpa campur tangan kita, semua berjalan begitu saja dengan aturan-aturan Fisika. Sebagai contoh, segenggam pasir terdiri dari sebutir pasir yang memiliki massa dan gaya tarik antar sesamanya. Jika kita jatuhkan dari genggaman kita maka akan membentuk sebuah gundukan kecil gunung pasir. Apabila secara konstan kita tambah terus volume pasir yang kita jatuhkan maka dengan sendirinya butiran-butiran pasir tersebut membentuk sudut yang selalu sama untuk membuat sebuah gundukan gunung pasir. Mereka memposisikan diri mereka sendiri. Itulah ketentuan-ketentuan Fisika.

Sejak zaman dahulu kala,, manusia telah mendayagunakan segala kemampuan otaknya untuk memahami alam semesta. Tapi ternyata, kita punya keterbatasan dalam kemampuan ini. Kemampuan untuk memahami hukum-hukum yang berlaku di alam dan memprediksi peristiwa apa yang akan terjadi dengan hukum-hukum tersebut. Semua itu, adalah dalam tahap untuk "memahami pikiran Tuhan". Cukup merasa aneh dengan kata-kata Mr. E tersebut. Tapi jika kita lihat dari percobaan mengenai gaya, perpindahan, masa, kecepatan dan percepatan yang dikembangkan oleh generasi Newtonian sangat mungkin kita bisa memprediksi jarak yang ditempuh oleh suatu benda jika berjalan dalam selang waktu tertentu dan dengan kecepatan tertentu.

Ke semua hal yang diuraikan di atas dalam konsep kita dikenal dengan: Sunnatullah. Ketentuan-ketentuan Allah, hukum-hukum Allah, ilmu-ilmu Allah, yang jika semua pohon-pohon di hutan seluruh dunia dijadikan penanya dan air laut dari seluruh samudera dijadikan tintanya, niscaya tidaklah cukup. Baik itu ilmu yang telah diungkapkan oleh kemampuan manusia. Maupun ilmu-ilmu yang masih dalam ranah niskala dan terkesan sangat esoteris.

*

Manusia, dalam kondisi tertekan dan memfokuskan diri untuk menyerahkan dirinya kepada sesuatu Zat Yang Maha, ternyata bisa membawa perubahan bagi manusia itu sendiri dan perilaku lingkungan terhadap individu tersebut. Seolah, energi dari alam semesta mendukungnya.

Dahulu, saat-saat saya berada pada tingkat 3 Sekolah Menengah Atas, saya harus menentukan masa depan saya. Saat itu, dengan idealisme tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan, sebenarnya saya menginginkan untuk melanjutkan pembelajaran tentang sains pada sebuah universitas negeri terkemuka di negeri ini. Akan tetapi, di lain pihak, saya harus realistis dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi keluarga yang memang dirasa tidak mampu jika harus membiayai semua jenjang pendidikan sampai saya lulus. Di situlah, lantas, saya bersimpuh di masjid sekolahan setelah shubuh saat ada kesempatan menginap di masjid sekolah yang memang dulu sering dilakukan. Pada kesempatan itu, benar-benar saya menyerahkan diri saya kepada Zat yang saya yakini adalah Pencipta Segala. Supreme Being. Yang telah menjadikan semua ada dan Penentu Segala Perkara. Kemudian saya berkeyakinan, bahwa apapun yang saya tentukan, jika diawali dengan pemikiran positif, niscaya akan diberikan jalan oleh-Nya.

Benar saja, ketika saya mengikuti tiga ujian masuk; STAN, STIS, dan SPMB ketiganya lolos. Saya meyakini, ini semua bukanlah kebetulan atau karena faktor keberuntungan saya karena saya pintar atau pandai. Bukan itu esensinya. Kuncinya ada pada keyakinan saya tentang suatu Zat Yang Maha. Keyakinan pikiran saya bahwa saya bisa menjalani semua ujian ini dengan baik. Tentunya keyakinan tersebut bukan hanya berupa keyakinan semata. Akan tetapi, sebuah keyakinan dalam mencapai tujuan tentu mempunyai langkah-langkah untuk memperolehnya. Sama halnya dengan kata-kata Rene Descartes sebenarnya, cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Atau dalam pepatah inggris, jika kamu berpikir bisa, maka kamu bisa. Ke semua, berawal dari pemikiran kita. Dan pemikiran kitalah yang menggerakkan, apapun itu, untuk mencapai tujuan kita.

Dalam istilah disiplin ilmu lain, disebut dengan konsep: Noetic.



***



Semua hal yang terjadi di dunia ini bukanlah karena kebetulan. Semua kejadian saling berkaitan dan saling menyebabkan dan mengakibati. Tidak ada satu peristiwa tunggal yang berdiri sendiri tanpa ada kaitannya dengan sebab lain. Walaupun kelihatannya acak, jika dipahami dan diperhatikan aka nada kaitannya dengan peristiwa tertentu. Inilah yang kemudian melahirkan gagasan Teori Chaos di kalangan ilmuwan Fisika atau Matematika.

Konon, Teori Chaos lahir dari rasa ingin tahu manusia terhadap peristiwa yang akan datang. Manusia selalu ingin menanyakan bagaimana sebuah sistem berubah dari waktu ke waktu. Di dalam teori chaos manusia menemukan bahwa bahwa terkadang sebuah perubahan tidaklah serumit sebagaimana ia terlihat. Bahkan dari sistem yang secara matematis sangat sederhana sekalipun dapat dihasilkan pola-pola yang acak. Jadilah, manusia beranggapan bahwasannya hal yang Chaotik (bersifat chaos) adalah hal yang acak, bersifat merusak, atau suatu hal yang sangat sensitif. Akan tetapi, jika kita lihat asal muasal kata chaos dalam mitologi Yunani kita tentu akan heran. Chaos merupakan keadaan awal kemunculan para dewa. Konon kata chaos paling awal ditemukan pada buku Theogeny karya Hesoid, filsuf Yunani yang hidup pada 700 tahun sebelum Masehi. Chaos sendiri dalam bahasa Yunani berarti "membuka kehampaan". Sebagai seorang sosok dewa, Chaos merupakan suatu kehampaan yang menjadi tempat kemunculan objek-objek pertama. Dalam mitos disebutkan objek awal tersebut, dikenal sebagai anak-anak Chaos, yaitu Gaia, Tartarus, dan Eros, sebagian lain menambahkan Nyx dan Erebus.

Ini menunjukkan, keacakan dalam hidup sebenarnya adalah suatu keteraturan yang sangat sempurna. Dan tentunya, tidak terjadi begitu saja. Ada "sesuatu" yang telah mengaturnya. Tiga tahun lalu, saya membaca sebuah novel karya Greg Iles; The Footprint of God, yang dibuka dengan sebuah teka-teki Zen yang cukup menggelitik iman dan nalar: jika semua akan kembali ke tuhan, kemana tuhan akan kembali? Secara singkat, buku itu bercerita tentang pencarian manusia akan hakikat Ilahi, yang terlihat dari visi-visi tokoh utamanya, Dr. Tennant yang di dalamnya saya menangkap pesan tentang visi atau gambaran manusia tentang Tuhan. Yang pada akhirnya, diceritakan, ternyata yang maha kuasa adalah ilmu pengetahuan. Tentu para atheis akan bersorak sorai tentang ending buku itu. Ya, sebuah bacaan yang kurang baik bagi pertumbuhan iman, atau, malah sebagai katalis untuk kembali mempelajari keimanan kita.

Dalam keyakinan kita, ada suatu konsep dalam hadits yang diriwayatkan Aku (Allah) bersama sangkaan hambaku padaku . From thought become thing. Yang berarti, semua berawal dari pemikiran kita tentang suatu hal. Tanyakan pada diri sendiri, kemudian pikirkanlah secara positif, maka semesta akan mendukung pemikiran kita. Hal-hal seperti ini secara tidak langsung telah diterapkan oleh kita. Sebuah meditasi, pengkonsentrasian dalam shalat, metode hypnosis diri, atau tata cara-tata cara penyembuhan alternatif yang ramai di masyarakat, sebut saja mbah tali yang terkenal sangat ampuh menyembuhkan tulang tanpa prosedur medis yang sebagaimana mestinya. Hal ini erat kaitannya dengan konsep Noetic. Kata "noetic" berasal dari kata Yunani "nous" yang dapat diartikan (meskipun tidak secara akurat) sebagai "kesadaran dalam" (inner knowing) ataupun "kesadaran intuitif" (intuitive consciousness) yang merupakan akses langsung terhadap pengetahuan yang melampaui indera normal dan logika pikir kita.

Noetic sciences menggunakan metode scientifik untuk menjelajahi "inner cosmos" atau kosmos di dalam pikiran manusia (kesadaran, jiwa dan spirit) dan bagaimana hal tersebut berhubungan dengan "outer kosmos" yaitu dunia fisik diluar pikiran. Dengan kata lain, ilmu ini mempelajari bagaimana seseorang menjadi sadar akan pengalaman atau kemampuan (intuisi, komunikasi dengan jiwa, energy healing, dll) yang nampaknya secara rasional tidak dapat dijelaskan.

Sudah tentu, ini merupakan konsep yang ada dalam ranah niskala* dan terkesan sangat esoteris**. Sebuah pemahaman yang jika dimengerti secara parsial, justeru akan menganggap diri kita mempunyai kekuatan yang maha. Bisa mencipta dan merubah sesuatu asal kita bersungguh-sungguh. Sebuah konsep yang justeru akan melahirkan manusia-manusia sombong, atheis dan mungkin manusia-manusia denial.

Untuk itu, diperlukanlah suatu bingkai agar pemahaman tersebut dapat tertata secara rapi dan mengatur manusia yang sejatinya bisa menjadi apa saja. Sebuah sistem keyakinan yang saya memusatkan keinginan saya kepada Dia Yang Maha Segala. Keyakinan terhadap hal yang positif dengan tujuan "yakin" Tuhan. Saya memilih sistem Islam dan tujuan yakin Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

**

Bagi sebagian orang, keyakinan yang mereka yakini bukanlah seperti yang saya yakini. Mungkin, mereka yakin terhadap manifestasi tiga wujud dalam satu Zat, kemudian keyakinan terhadap benda atau kesadaran kosmik, bahkan keyakinan terhadap sesuatu yang Maha, tapi tidak bernama, tak terkecuali orang yang tidak percaya akan adanya Zat Yang Maha. Mereka tetap mempunyai keyakinan. Baik itu terhadap ilmu pengetahua, hukum-hukum alam, atau dirinya sendiri.

**

Semoga kita tetap berada dalam keyakinan kita dan senantiasa meyakini keyakinan yang benar.





catatan kaki:

nis•ka•la: tidak berwujud; tidak berbeda; mujarad; abstrak

eso•te•ris /ésotéris/ : bersifat khusus (rahasia, terbatas)

by:Temmy Mokodompit

Pancasila Sebagai Pembangun Karakter Bangsa

Enam puluh lima tahun yang lalu, tepatnya tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno dalam pidatonya telah mengusulkan dasar falsafah Negara Indonesia. Dasar falsafah Negara yang lima inilah yang diperkenalkan oleh beliau -yang istilahnya diperoleh dari ahli bahasa, Mr. Muh. Yamin- sebagai Pancasila.

Selama itu juga Pancasila telah dipandang sebagai sistem filsafat, etika (moral) politik, dan Ideologi Nasional. Sebagai ideologi terbuka, yang pertama kali diperkenalkan oleh Soeharto pada 10 November 1986, Pancasila dituntut untuk menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman yang senantiasa dinamis tanpa mengesampingkan nilai-nilai dasarnya yang tetap.

Nilai-nilai luhur yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa,semestinya merekat erat sebagai karakter bangsa ini. Ini dikarenakan Pancasila merupakan dasar negara sekaligus sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Akan tetapi, terkadang suatu teori atau konsep sangat bertentangan dengan prakteknya secara nyata. Nilai-nilai luhur Pancasila telah ternoda oleh perilaku korupsi pejabat, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), usaha-usaha disintegrasi bangsa, para politisi busuk yang senantiasa melakukan kecurangan dan yang paling menyesakkan adalah pengkhianatan terhadap keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pembangunan karakter bangsa sudah menjadi harga mati pada masa ini. Perilaku-perilaku menyimpang yang telah membudaya hanya dapat diberantas secara tuntas dengan mengubah pola pikir dan karakter pelaku. Terkadang, sulit untuk menentukan parameter yang sesuai untuk itu. Terlebih dengan kemajemukan bangsa Indonesia. Di sinilah kita semestinya kembali kepada nilai-nilai luhur bangsa yang terkandung dalam Pancasila.

Sebuah dasar negara seyogyanya tidak hanya dipelajari dan dimengerti saja. Tetapi yang lebih dari itu adalah pelaksanaannya secara nyata. Ideologi negara juga bukan hanya milik para penyelenggara negara ini tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Kesangsian publik terhadap pelaksanaan ideologi inilah yang mengundang isu-isu untuk mengganti dasar negara, Pancasila.

Sejalan dengan itu diperlukanlah Pendidikan Pancasila bagi masyarakat. Yang perlu diperhatikan adalah Pancasila bukanlah suatu dogma. Pancasila bukanlah kumpulan rangkaian aturan luhur yang harus dihafal. Bukan, bukan itu esensinya. Pendidikan Pancasila adalah pendidikan perilaku. Suatu pendidikan yang 90% praktek dan 10% teori. Pendidikan untuk terus mengembangkan nilai-nilai instrumen Pancasila yang disesuaikan dengan keadaan bangsa saat ini tanpa mengesampingkan nilai-nilai dasarnya.

Pancasila yang telah ditetapkan sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia sudah sepantasnya dijaga oleh seluruh rakyat Indonesia. Begitu pula dalam pelaksanaannya, harus dilaksanakan dengan kesadaran dan kemauan sebagai bangsa Indonesia. Hal ini diperlukan agar seluruh pengambil kebijakan tidak hanya manis dalam konsep-konsep untuk membangun bangsa dan janji-janji manis untuk mencapai tujuan bangsa tetapi juga solusi yang cespleng untuk menghadapi permasalahan bangsa.

by,Temmy Mokodompit

Keajaiban Sholat Tahajud

Kebiasaan sholat tahajud sungguh merupakan kenikmatan bagi yang melaksanakan. Terkadang pada setiap sholat tahajud ada keajaiban bagi yang melaksanakan. Agak mustahil memang untuk diceritakan tapi kejadian ini benar-benar nyata terjadi pada saya.

Pada suatu saya memperkenalkan teman pada seorang akhwat. Beberapa malam kemudian saya sholat tahajud dan dilanjutkan sholat subuh. Pada pagi hari saya sempat bermimpi sedang hadir di acara walimah ursy, teman dan akhwat tersebut duduk di pelaminan sebagai pasangan pengantin.

Saya sempat telpon seorang teman, "Teh, percaya nggak, aku semalam mimpi loh melihat teman kita ini duduk di pelaminan pada walimah ursy." "Ah, mana mungkin mas agus. Baru aja diperkenalkan. Mana mungkin secepat itu menikah." katanya setengah tidak percaya.

Waktupun bergulir begitu cepat. Perbincangan itu berlalu begitu saja. 6 bulan kemudian saya bersama-sama teman-teman lainnya hadir di walimah ursy persis sama dengan yang pernah saya lihat dalam mimpi, subhanallah..Maha Suci Alloh..itulah keajaiban sholat tahajud buat saya. Mungkin teman-teman juga pernah mengalami hal yang sama bertemu dengan keajaiban sholat tahajud.

---

Shalat malam, bila shalat tersebut dikerjakan sesudah tidur, dinamakan shalat Tahajud, artinya terbangun malam. Jika hendak mengerjakan sholat Tahajud, harus tidur dulu.

" Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji." (QS : Al-Isro' : 79).

Wassalam, by,Temmy Mokodompit......

Rumus Orang Cerdas dan Orang Bodoh (Intermeso)

Apakah yang akan terjadi apabila orang cerdas bertemu dengan orang bodoh? Jawaban untuk pertanyaan itulah yang akan kita bahas dalam warta ini, yang boleh dianggap serius, boleh juga sebagai guyonan.

Tapi, sungguh, isi warta ini seribu-rius. Rumus-rumus ini adalah kenyataan dalam kehidupan kita. Walaupun dengan gaya humor dan dibuat sederhana, tapi kalau diuraikan bisa sangat panjang, lho.

Untuk Wikimuers yang suka humor dan berpikir mendalam, inilah rumus-rumusnya:



1. Rumus keluarga

Orang tua cerdas + anak cerdas = diskusi

Orang tua cerdas + anak bodoh = bentakan

Orang tua bodoh + anak cerdas = kemanjaan

Orang tua bodoh + anak bodoh = broken home



2. Rumus pendidikan

Guru cerdas + siswa cerdas = sekolah favorit

Guru cerdas + siswa bodoh = belajar keras

Guru bodoh + siswa cerdas = pujian

Guru bodoh + siswa bodoh = tidak lulus 100%



3. Rumus pergaulan

Cowok cerdas + cewek cerdas = cinta romantis

Cowok cerdas + cewek bodoh = skandal

Cowok bodoh + cewek cerdas = pernikahan

Cowok bodoh + cewek bodoh = hamil



4. Rumus perusahaan

Boss cerdas + karyawan cerdas = profit

Boss cerdas + karyawan bodoh = produksi

Boss bodoh + karyawan cerdas = promosi

Boss bodoh + karyawan bodoh = kerja lembur



5. Rumus kenegaraan

Pemimpin cerdas + rakyat cerdas = demokrasi

Pemimpin cerdas + rakyat bodoh = otoriter

Pemimpin bodoh + rakyat cerdas = demonstrasi

Pemimpin bodoh + rakyat bodoh = negara bangkrut

manfaat pengalaman

Kebenaran yang agung ada pada kita..
Panas dan dingin,,,, duka cita dan penderitaan,..
Ketakutan dan kelemahan dari kekayaan dan raga
Bersama,,, supaya kepingan kita yang paling dalam
Menjadi nyata.....